Selasa, 10 September 2019

Mau Masuk ke Zona Waktu Berkepala Dua, Gimana Rasanya?


Dulu, saat baru masuk umur 19 tahun..

        Itulah saat dimana semua sambat mengumpul di kepala dan melimpah ruah. ‘Udah mau 20 tahun tapi masih gini-gini aja’, ‘Duh ga siap rasanya buat jadi sosok berumur 20 tahun’, ‘Gini amat dah uda mau 20 tapi ga ngasilin apa-apa’, pokoknya udah biasa banget dah sambatan model begitu kalau lagi ngobrol bareng teman-teman (biasanya yang suka mancing ya saya wkwk). Tapi setelah masuk umur 20 tahun officially, entah kenapa sambatnya ga keluar lagi.




Duh, kalau ditanya rasanyaa.. 😊
Gatau, serius, sebingung itu buat menggambarkan perasaannya gimana.


    Tapi disini, saya coba memberi gambaran ke temen-temen yang baca tentang mengapa kita perlu membiarkan sambat sejenis yang di atas mengalir karena hal itu merupakan bukti bahwa kita sadar kalau diri kita harus terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik.
Gapapa, tidak sedikit jumlah sambat yang bisa jadi titik balik kehidupan seseorang. Jika kamu beruntung, sambatmu berakhir dengan tindakan perubahan. Jika tidak, sambatmu berakhir di mulut saja, karena mager, mungkin?
        Tulisan ini, sejatinya, diperuntukkan untuk adek-adekku yang masih nunggu jadi officially 20 y.o lah ya. Harapannya, biar adik-adik bisa memahami kalau hidup ga cuma sekolah, ig-an, nge-game, twitter-an. Tapi ada yang harus dipersiapkan, dipikirkan, dan direncakan karena adanya tuntutan dari kehidupan sosial dan tanggung jawab. Disamping itu, kalian bisa memilih menyiapkan diri dari sekarang atau menyesal di masa depan.

‘Kalo aja aku dulu anaknya rajin banget belajar dari SD, terus bisa berprestasi, dapet sekolah yang bagus, bisa kaya Maudy Ayunda yang keterima di Harvard Univ ama Stanford Univ

‘Kalo aja aku dulu anaknya bisa nahan diri buat ga kecanduan game online, 'kan bisa banget ngembangin skill main futsal, 'ntar berprestasi, ikut kejuaraan dunia, pasti happy banget rasanya kalo punya job yang emang passion aku’

        Gaes, bener deh, di masa depan nanti kamu bakal perasaan nyesel kenapa dulu kamu ga berusaha sekuat mungkin buat ngejar apa yang kamu mau. Itu cuman contoh sebagian kecil penyesalan yang kemungkinan bakal terbesit di benak kamu seiring berjalannya waktu.

        Kalo temen-temen bahkan sesepuh saya yang udah lebih pengalaman mampir disini, duh maklum, kayanya saya kesannya kebanyakan ngomong dan sok jago ya disini karena gimanapun, anda lah yang lebih banyak mengalami asam garam kehidupan. Bahkan waktu anda menetap di dunia juga lebih lama dari saya. Mohon kritik dan sarannya, juga sharing-sharing nya ya master. Ditunggu di kolom komentar;)

        Well, mulai dari sini, adalah hal-hal yang aku pikirin, rasain, dan bayangin. Beberapa hal aku kelompokin menjadi beberapa bagian dan dituliskan dalam poin-poin agar pembaca dapat lebih paham.


Eh udah mau 20 tahun nih. Asyik dong yah?

        Asyik dong haha. 20 tahun itu lebih pantas dianggap sebagai permulaan seseorang menuju kedewasaan, menurutku. Mungkin karena pas aja angkanya kali yah. Jadinya perayaan sweet twenty dong, bukan sweet seventeen wkwk. Tetapi, kan umur belasan itu kan emang saat dimana kita belum bisa stabil secara emosional. Kenapa ya yang hype banget malah pas sweet 17? Sweet 20 deserves better IMO. Emang apa sih asyiknya kalo udah masuk 'umur berkepala dua'?


  •         Mencoba hal baru

        Beberapa mission baru bisa unlocked (jiah kaya di game aja) kalo kamu sudah sampai di umur 20 tahun. Ini bukan perkara umur legal buat ‘minum’ atau buat nonton wikwik ya. 

     Disaat kamu berumur 20 tahun, kesempatan untuk mengikuti beberapa kegiatan positif akan semakin luas dan pilihannya pun beragam. Jika kamu pengen rasain ikut kegiatan volunteer acara internasional, iseng-iseng jadi freelancer, nyobain part-time job di kafe, dan lain-lain, bisa banget deh.
 


  •     Memenuhi rasa penasaran

        Semacam hal-hal yang pengen dilakuin sejak lama tetapi belum bisa diwujudkan. Atau sekedar penasaran, ‘Gimana ya rasanya touring ke luar kota bareng temen’, ‘Pengen deh rasanya naik gunung, katanya seru’, ‘Eh kayanya kalo rambutku diwarnain bagus deh, ga ngebosenin’, ‘Pengen nge-camp di pantai deh, biar bisa liat bintang-bintang pas malem’.


        Di umur 20an ini bisajadi kesempatannya makin terbuka bisajadi karena orangtua udah memberi izin karena kamu terlihat sudah cukup dewasa untuk touring dan mantai, atau sekarang kamu udah kuliah jadi lebih mandiri sehingga bisa ngelakuin hal-hal tanpa bergantung pada orang lain. 

Tapi inget, kamu bisa penasaran dengan banyak hal, namun resikonya menjadi tanggung jawab kamu.
 
  • Waktu yang bagus untuk kenal dengan banyak orang

        Rutinitas kamu di umur 20-an sudah pasti berbeda dengan rutinitas di umur belasan. Jam terbang kamu pun makin tinggi karena berada di lingkungan sosial yang beragam jika dibanding dengan saat sekolah yang hanya kisaran sekolah, rumah, dan bimbel. Memasuki fase menjadi mahasiswa atau bekerja setelah tamat sekolah mengharuskan kamu bertemu dengan banyak tipe individu. 


        Oleh karena itu, jangan biarkan kesempatanmu untuk mengenal banyak orang menjadi sia-sia. Pastikan kamu bisa mengambil hal yang bisa menjadi pembelajaran kamu dalam cerita kehidupan mereka. Jangan ragu untuk bertanya dan meminta ilmu dari mereka.

  • Berkelana ke banyak tempat

        Kamu telah dipandang cukup mumpuni untuk mandiri sehingga dapat pergi kemana-mana sendirian. Tak perlu takut dengan alasan ‘ga ada yang jagain kamu nanti’ saat minta izin ke orang tua buat bepergian. Asal ada uang semua mudah, mau melancong ke luar negeri ga ada masalah. Bebas!



Kira-kira nanti di umur 20an tantangannya apa ya?

  • Jadi pribadi berintegritas tinggi!

        Millard  Fuller  (Habitat  for Humanity)  menggambarkan  integritas  sebagai  ”konsistensi  terhadap  apa  yang  dianggap benar dan salah dalam hidup Anda” (Antonius Atosökhi Gea: 2006). Menurutku, integritas sangat penting untuk memperkokoh prinsip hidup sehingga tidak terombang-ambing dengan keadaan sekitar sehingga tidak ragu dalam mengambil keputusan. Nanti, akan banyak hal yang membutuhkan pengambilan keputusan dan pastinya lebih rumit.
  • Hidup bukan lagi soal diri sendiri

        Ini adalah saat kita terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Saat memasuki masa meniti karir, misalnya. Kita diwajibkan mengikuti kerangka visi dan misi perusahaan untuk mencapai tujuan bersama, memahami norma tak tertulis dalam masyarakat, bahkan saat menikah pun harus bersedia menghadapi segala hal bersama pasangan. Semua tindak-tanduk kita harus dikembalikan pada kesesuaian dalam hidup bermasyarkat karena kita hidup sebagai individu yang berdikari namun tetap tidak bisa melepas peran sebagai makhluk sosial seenak hati. Ada tanggung jawab moral di dalamnya.
 
  •  Harus udah punya proyeksi hidup jangka panjang, bahkan hingga tua!

        Terkadang memang beberapa hal yang ingin dicapai tidak bisa dipersiapkan dalam waktu singkat, seperti pendidikan, pernikahan, jenjang karir, dll. Selain itu kamu harus sudah mempunyai gambaran bagaimana seharusnya kamu menghabiskan masa pensiunmu dan apa yang harus dipersiapkan. Its all about set your target!
Lagian..
Hidup tanpa target itu hambar. Kamu bakal ga punya semangat buat menanti hari esok.
  • Persiapan hidup berdikari

        Masa-masa  hidup berdikari akan datang. Kamu paling engga bisa masak buat dirimu sendiri, masak itu termasuk survival skill loh, jadi gak hanya cewe aja yang harus bisa masak. Gak lucu banget kalo seandainya buat masak air aja pancinya sampe gosong.

      Selanjutnya pastikan kamu di masa depan nanti bisa mandiri secara finansial, gak menjadi beban orangtua lagi. Caranya bisa dengan merencanakan pekerjaan atau persiapan meniti karir. Kamu juga bisa menabung dari sekarang dan berinvestasi.


Ada yang gak kalah penting..

Ikut seminar parenting ehehe. 


Kenapa? Silahkan coba tanya yang sudah berpengalaman wkwk.
Perjalanannya bakal seumur hidup, maka persiapannya juga dari sekarang~

  • Kemampuan sosial baik

        Di periode 20an ini, seperti yang udah aku ceritain di poin-poin awal, lingkungan sosial kamu bukan lagi perkara sekolah-rumah-les, tetapi jauh lebih kompleks terutama di dunia kerja (sekitar >23 tahun). Banyak social skill yang harus bisa kamu kuasai saat kamu berkecimpung dalam masyarakat maupun dunia kerja, seperti komunikasi yang baik (negosiasi, beragumen, kemampuan menyampaikan gagasan yang tegas dan jelas), kemampuan kepemimpinan, kemampuan pengambilan keputusan, dll.
Coba deh ikut training kepemimpinan, atau gabung di organisasi sekitarmu. Baik itu di lingkungan rumah maupun di sekolah untuk belajar leadership dan decision making.

        Selain itu, kamu juga harus punya kemampuan adaptasi yang baik. Karena nantinya kamu akan sering berada dalam lingkungan sosial yang berbeda dan selalu berubah dan kamu akan ketemu banyak orang baru. Itu artinya, kamu juga harus siap mental karena kemungkinan akan berada di luar zona nyaman itu besar. Ada toxic society, work under pressure, duh, banyak banget hal-hal yang gak menyenangkan, tapi harus dihadapi:”


Apa aja ya yang harus dipersiapkan dari sekarang?

  • Meneguhkan prinsip hidup

        Di dunia ‘orang dewasa’ nanti, kita dituntut untuk memutuskan sendiri semua hal di diri kita sekaligus menerima sendiri setiap konsekuensi dari keputusan tersebut. Oleh karena itu, perlu kesadaran diri dan kekokohan prinsip hidup dalam memutuskan hal dalam hidup mengingat bahwa yang menjalani hidup kita bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri. Selain itu, kita juga tidak mudah terbawa arus pemikiran orang lain saat menerima banyak pendapat yang berbeda. Tidak apa-apa jika dihadapkan dengan banyak pendapat, tetapi jangan sampai membuat kamu bingung dan goyah. Terima pendapat, analisis, dan putuskan!

  • Mental baja untuk memperbaiki diri

        Hidup adalah proses bukan? Kekurangan bukanlah keburukan, tapi keunikan yang membentuk identitas dirimu dan memperkuat eksistensimu sebagai manusia. Bisa jadi dalam perjalananmu nanti kamu akan dihadapkan dengan kondisi dimana kekuranganmu berbentur karena tuntutan lingkungan.

ITS TOTALLY OKAY! Benturan ada untuk membentukmu!
        Coba cari caramu sendiri untuk tetap memperbaiki diri tanpa harus menjadi orang lain. Hal ini ada hubungannya dengan sikap adaptif. Dalam lingkungan sosial yang berbeda, juga mempunyai aturan tertulis maupun tak tertulis yang berbeda. Mau tidak mau kita juga harus mengikutinya kan? Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Lumrahnya seperti itu.
        Oleh karena itu, ada kalanya yang kita bisa lakukan adalah mengalahkan ego untuk tetap berbesar hati dan bermental baja untuk memperbaiki diri dan berubah jadi manusia yang lebih baik.
  • Manajemen emosi yg baik

        Anger management, kemampuan ketahanan bekerja di bawah tekanan, mengelola rasa panik, banyak hal yang harus dibangun dalam kepribadian kamu dalam bidang emosi dalam persiapan menuju kehidupan 'orang dewasa'. Membangun karakter itu gak sebentar loh, lama. Tetapi bukan berarti gak mungkin. Pelan-pelan, banyakin pengalaman, dan terjun ke rasa marah dan panik itu sendiri untuk belajar. Aku jadi keinget kata dosenku:

Habiskan masa mudamu dengan membuat masalah, lalu belajarlah dari sana


Hwaaa akhirnya selesai juga. Capek juga nyicil tulisannya dalam 3 hari:”

        Sebenernya aku pengen banget bikin tulisan ini pas mau masuk ke ofc 20. Tapi karena mager ya jadilah baru bikin berbulan-bulan setelahnya.

     Tulisan ini aku buat juga untuk mengingatkan aku bahwa aku juga ga boleh lengah untuk membiarkan masa depan tanpa rencana, intinya tulisan ini juga sebagai pengingat pada diri sendiri. Aku juga disini masih belajar dan masih mempersiapkan. Gak ada maksud untuk menggurui deh, bener. 

        Sebenernya malah malu karena kesannya kaya sotoy gitu gak sih pas tulisan ini dibaca ama orang yang lebih tua :”) Tapi pengen banget share ini supaya orang lain gak kecolongan kaya aku wkwk. Dan karena aku dulu pernah penasaran gimana uneg-uneg kakak-kakak yang udah 20an tentang masalah hidup. Dengan adanya tulisan ini, semoga dapat mencerahkan pikiran orang-orang yang membutuhkan info sejenis ini wkwk.

Mudah-mudahan kita bisa memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik ya! 

Dari saya yang di awal 20an dan mencoba menerka-nerka...

Terimakasih, salam life-time-learner!
LOVE!!



Update: 

(1) Hai! Yasi baru saja berumur 23 tahun! Hidupnya agak nano-nano. Setelah melangkah kecil, kemudian lihat ke belakang, wah aku sudah jauh di depan! Ternyata sebenernya, rival abadi kita, yah diri kita sendiri. Jangan terlalu lama "mendongak" dan "menunduk". You did your best, keep going!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar